Jual Barang Antik, Benda Koleksi, Aksesoris, Keris, Tombak, Pusaka, Minyak, Harga Murah Asli

( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0
Menu

Keris Sempono Luk 9 Tangguh Bugis Sepuh Kuno

KategoriKeris Pusaka, Koleksi Keris
Stok 1
KodeK213
Di lihat58 kali
Berat(/pcs)1.5 Kg
Harga Rp 2.300.000

Detail Produk Keris Sempono Luk 9 Tangguh Bugis Sepuh Kuno

Pusaka Keris Sempono Tangguh Bugis Sepuh Kuno

  • Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempana Luk 9
  • Pamor (motif lipatan besi) : Pedaringan Kebak (Pamor Nggajih Berlapis Lapis Akhodiyat)
  • Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Bugis Sepuh Kuno
  • Panjang Bilah : 33,5 cm
  • Pesi utuh masih panjang original
  • Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno ( Motif Pelet Istimewa )
  • Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno
  • Pendok : Blewah Surakarta Mamas Kuno
  • Mendak: Perunggu Kuno
  • Garansi Keris Asli Sepuh Kuno
  • Kode: K213

Sejarah dan Filosofi Keris Sempono Tangguh Bugis Sepuh Kuno

Dhapur Sempono

Sempono atau Sempana berasal dari kata “supeno” , yang berarti impian, harapan, cita-cita atau visi. Arti keseluruhannya adalah orang yang memiliki visi atau cara pandang yang baik dalam hidupnya, atau orang yang memperoleh petunjuk pada jalan kebaikan.

Filosofi sebenarnya yang bisa di ambil dari dhapur keris sempono adalah bahwa dalam kehidupannya manusia tentu memiliki banyak kelemahan. Setiap waktu kita tidak pernah lepas dari yang namanya kesalahan dan masih harus banyak belajar. Oleh karena itu sudah selayaknya kita dituntut untuk terus berupaya berbuat yang lebih baik, intropeksi diri dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan tujuan untuk mencapai kesempurnaan hidup melalui perbaikan kualitas diri. Bukankah kita, manusia ini telah diciptakan Tuhan YME sebagai makhluk yang sempurna?

Luk 9

Jika kita mencermati jumlah luk pada keris dari beberapa tangguh, akan kita dapati bahwa kebanyakan keris dari beberapa tangguh hanya dibabar dengan jumlah maksimal sebanyak 9 (sembilan). Hal ini umumnya bisa kita ketemui pada keris dari tangguh Madya Kuno dan Sepuh Tengahan seperti tangguh Kediri, Segaluh, Pajajaran, Tuban, Pengging dan Blambangan.

Keris-keris tua itu jarang sekali ditemui berlekuk lebih dari sembilan dan biasanya juga tanpa sogokan. Jika pada tangguh tua itu ditemui memiliki luk lebih dari 9, maka umumnya adalah keris yang disebut keris yasan pada era yang lebih muda (pasca Majapahit dan terutama era Mataram). Permasalahan jumlah luk 9, memang tidak banyak diperhatikan pecinta keris, terkesan sederhana, sepele dan sering diabaikan. Akan tetapi jika dikaji secara lebih mendalam, tentu ada makna lebih dalam pembuatan keris dengan jumlah luk maksimal 9 (sembilan).

Angka 9 dalam masyarakat Jawa Kuno

Borobudur, candi terbesar yang didirikan oleh dinasti Syailendra yang menganut ajaran Budha Gautama, sesungguhnya memiliki 9 tingkatan pada tataran “Manusia dan Bumi”, sedangkan tingkatan terakhir yang ke 10 adalah merupakan tingkatan puncak seseorang untuk menjadi Budha dan juga melambangkan Nirwana dimana Budha bersemayam.

Pendapat lain menyatakan bahwa dalam pandangan masyarakat Jawa Kuno, angka 9 (sembilan) yang dijabarkan kembali dalam olah kebathinan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IX dinyatakan bahwa babakan howo songo adalah kunci pengaturan dan pengendalian menuju kesempurnaan hidup. Jika lubang 9 (seperti mata, hidung, telinga, mulut, dsb) dapat dikendalikan, maka manusia akan menemukan keselamatan hidup di dunia dan akherat.

Dalam primbon, angka 9 (sembilan) melambangkan Mars, dipandangan sebagai angka puncak, dengan makna khusus bahkan dianggap paling suci. Bila dikalikan angka berapapun, penjumlahan angka tersebut kembali sebagai angka sembilan. (contoh 3×9=27;2+7=9, dst).

Jika menilik pada jumlah angka dasar yang ada 0-9, maka angka 9 (sembilan) memiliki nilai yang paling tinggi. Tak heran bila angka tersebut sering disebut sebagai simbol kesempurnaan sekaligus dimaknai dengan kerahasiaan. 9 (sembilan) adalah batas kemampuan dan penalaran pikiran manusia, sebab setelah sembilan akan kembali 0 (kosong), lalu mulai lagi dengan hitungan awal pertama atau satu (1). Dengan semikian keris yang memiliki luk berjumlah 9 (sembilan) adalah merupakan pengejawantahan dari sebuah kesempurnaan hidup (kasampurnaning urip) bagi masyarakat Jawa jaman dahulu.

Pamor Pedaringan Kebak

Dahulu, orang jawa pada umumnya menyimpan beras dalam sebuah peti besar terbuat dari kayu yang disebut pendaringan. Ditinjau dari sudut arti namanya pun ada kaitannya. Wos Wutah artinya beras tumpah, sedangkan Pedaringan Kebak berarti peti beras yang penuh oleh beras. Dari segi bentuk gambaran pamornya, motif pamor pedaringan kebak mirip dengan pamor wos wutah namun bedanya tampak lebih kompleks dibandingkan bentuk gambaran pamor wos wutah, menempati seluruh permukaan bilah, menyatu atau tidak terpisah mengelompok menjadi beberapa bagian. Tuahnya dipercaya lebih kuat dibandingkan pamor wos wutah, segala upaya atau jerih payah dari apa yang telah dikerjakan menjadi suatu hasil panenan yang menumpuk dan rejeki mengalir deras memenuhi lumbung-lumbung yang ada.

Rp 150.000
Order Sekarang » SMS : 0812 2842 1333
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode470
Nama BarangKeris Singo Lodro
Harga Rp 150.000
Lihat Detail
Rp 4.750.000
Order Sekarang » SMS : 0812 2842 1333
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeK150
Nama BarangKeris Kuno Pamor Melati
Harga Rp 4.750.000
Lihat Detail
Rp 70.000
Order Sekarang » SMS : 0812 2842 1333
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode178
Nama BarangKeris Semar Kuncungan
Harga Rp 70.000
Lihat Detail
Rp 900.000
Order Sekarang » SMS : 0812 2842 1333
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode401
Nama BarangKeris Antik Kuno
Harga Rp 900.000
Lihat Detail

Cari Produk

Hubungi Kami

+62812 2842 1333
0812 2842 1333

+62812 2842 1333
pusakajimat@gmail.com

Temukan Kami di